[JOGJA TRIP – DAY 7 PART 1 – 11.11.2016] Menimba Air Kehidupan dari Sang Bunda Penebus

Berpose di depan Gua Maria Jatiningsih, 11 November 2016, 09.30 WIB

The Famous Gua Maria Sendangsono & Tenangnya Rosario-an Di Sana

Setelah 2 hari menikmati hari-hari bebas di dalam kota Jogjakarta, hari ini saya kembali melakukan perjalanan ke pinggiran kota Jogjakarta. Perjalanan kali ini, saya tidak lagi ditemani oleh teman saya, tetapi saya lakukan sendiri. Saya masih menggunakan jasa sewa mobil dari Nagan Tour seharga Rp 450.000 untuk 12 jam. Harga tersebut sudah termasuk supir dan BBM selama perjalanan.

Saya memulai perjalanan saya jam 08.00 WIB. Saat itu saya langsung meluncur menuju Gua Maria Jatiningsih di Sleman, Jogjakarta. Kurang lebih 30-45 menit perjalanan dari hotel menuju lokasi tersebut. Sesampainya di sana, saya duduk di pendopo yang ada di depan Gua Maria dan mendaraskan Doa Rosario. Kurang lebih 30 menit saya mendaraskan Doa Rosario di sana, saya keliling melihat-lihat ada apa saja di dalam kompleks Gua Maria Jatiningsih. Selain ada Gua Maria, ada pula kapel, patung Salib Yesus, dan juga patung-patung lainnya.

Kapel Adorasi Ekaristi Abadi di kompleks Gua Maria Jatiningsih, 11 November 2016, 09.30 WIB

Suasana yang saya dapatkan di sini sangat menenangkan. Lokasi yang jauh dari kota membuat tempat ini sangat sunyi dan mendukung orang yang datang ke sana untuk berdoa dan menimba air kehidupan. Cuacanya juga mendukung, angin semilir yang berhembus di bawah pohon-pohon besar yang rindang, menambah suasana hening dan khusuk orang yang berdoa di sana.

Sebuah suasana yang mampu membawa kita pada komunikasi yang baik dengan Sang Bunda Penebus.

Patung Bunda Maria menggendong Tuhan Yesus di dalam kompleks Gua Maria Jatiningsih, 11 November 2016, 09.30 WIB

Setelah itu, saya mengambil beberapa foto di sana dan melanjutkan perjalanan saya ke Gua Maria Sendangsono. Perjalanan sekitar 30 menit dari Gua Maria Jatiningsih ke Gua Maria Sendangsono. Kompleks Gua Maria Sendangsono jauh lebih besar dari Gua Maria Jatiningsih. Selain itu, untuk masuk ke Gua Maria Sendangsono, kita juga harus melewati jalan sekitar 200m untuk sampai di Gua Maria Sendangsono. Sepanjang jalan tersebut akan banyak orang menjual benda-benda rohani seperti Rosario, patung Salib Yesus, kalung Salib, buku doa, dan juga termasuk botol bila kita mau mengambil air suci di Gua Maria Sendangsono. Saya membeli sebuah botol di salah satu toko di sana seharga Rp 5.000.

Berpose di depan Gua Maria Sendangsono, 11 November 2016, 10.30 WIB

Sesampainya di depan Gua Maria Sendangsono, saya kembali mendaraskan Doa Rosario. Ada yang membuat saya kagum saat hendak berdoa Rosario di sini. Adalah seorang bapak berusia sekitar 50an tahun sedang berdoa dengan begitu khusuknya. Di samping kanan bapak itu, ada sebuah tas besar berwarna hitam sehingga saya menganggap bahwa bapak yang sudah tua itu masih berjualan. Ntah apa yang dijualnya, saya tidak mengetahuinya.

Tetapi poinnya adalah bahwa di dalam kesibukan bapak itu, mengais rezeki di pinggiran kota Jogjakarta untuk menghidupi orang-orang terkasihnya, beliau masih menyempatkan diri sejenak untuk menimba air kehidupan dari Sang Bunda Penebus. Semoga ia selalu dikaruniai berkat dari surga mulia, juga bagi mereka yang ia hidupi. Amin.

Berdoa di depan Gua Maria Sendangsono, 11 November 2016, 10.30 WIB

Usai saya mendaraskan Doa Rosario, sama seperti ketika saya di Gua Maria Jatiningsih, saya juga mengelilingi kompleks Gua Maria Sendangsono. Patung Salib Yesus seperti yang saya temukan di Gua Maria di sini, belum pernah saya temukan di tempat saya tinggal. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, bahwa selalu ada sesuatu yang baru yang bisa saya dapatkan dari traveling, meskipun untuk hal-hal yang sederhana sekalipun. Selain itu, di kompleks Gua Maria Sendangsono, ada kompleks pemakaman Katolik. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah pemakaman katekis pertama di Kalibawang, yaitu Bapak Barnabas Sarikromo dan Ibu Adriana Sarikromo.

Bagi saya katekis merupakan tonggak pertama yang menumbuhkan iman Katolik, dari pengajaran merekalah kita pertama kali mengetahui bagaimana iman Katolik yang sesungguhnya.

Landscape di dalam kompleks Gua Maria Sendangsono, 11 November 2016, 11.00 WIB

Setelah itu, saya mengambil beberapa foto di sini, dan melanjutkan perjalanan saya menuju Gereja Katolik Salib Suci di Gunung Sempu dan Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus di Ganjuran.

Sumber Foto: Koleksi pribadi, diambil dengan Kamera Belakang Iphone 6+.

 

Itinerary & Biaya Perjalanan: Ringkasan Itinerary & Biaya Perjalanan Jogjakarta 7D7N (5-11 November 2016)

Baca Juga:

[JOGJA TRIP – DAY 5 & 6 – 09-10.11.2016] Menikmati Libur & Bertemu Teman Lama. Ahh, That’s My Day!

[JOGJA TRIP – DAY 7 PART 2 – 11.11.2016] Arsitektur Gereja Bukanlah Penentu Iman

Tips & Saran Jalan-Jalan di Jogjakarta

Tempat-Tempat Wisata di Jogjakarta

TRAVEL as MUCH, as FAR, as LONG as YOU CAN. LIFE’s not MEANT to be LIVED in ONE PLACE.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *