[ARGUMENT] Etika Menggereja: Sebuah Kajian Sosial Tentang Ponsel Pintar

Pope Francis waves to pilgrims during his April 26, 2017 general audience in St. Peter’s Square. Credit: Lucia Ballester/CNA.

Ponsel Pintar dan Laju Perkembangannya

Pada tanggal 09 November 2017, sosial media ramai memperbincangkan isi homili Paus Fransiskus pada tanggal 08 November 2017 saat melakukan Audiensi Umum di Lapangan Basilika St. Petrus, Vatikan, yakni kritikan penggunaan ponsel untuk seluruh umat (tidak terkecuali Imam dan Uskup) saat merayakan Perayaan Ekaristi Kudus.

Isu ini sebenarnya adalah isu klasik yang bukan hanya terjadi di Vatikan, tetapi juga mungkin hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Isu ini kemudian semakin luar biasa bagi saya ketika dalam sewindu terakhir, teknologi ponsel berkembang begitu cepatnya, bukan hanya sebagai sarana untuk berkomunikasi secara langsung (telepon dan sms), lebih dari itu sudah banyak juga digunakan untuk berfoto dan berkomunikasi di sosial media.

Ponsel Pintar: Perkembangan Positif atau Pembodohan?

Demikianlah teknologi ponsel berkembang, hingga saat ini namanya sudah beralih menjadi ponsel pintar, karena sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan komunikasi semua orang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tetapi amat disayangkan, teknologi ponsel pintar tidak serta merta diiringi oleh kepintaran para penggunanya, bahkan pengguna ponsel pintar seringkali malah terlihat bodoh.

Apa saja efek bodoh dari ponsel pintar? Komunikasi memang lancar, tapi sosialisasi malah menjadi kendala terbesar. Ketergantungan akut manusia terhadap ponsel pintar itu sendiri. Waktu senggang manusia, tidak lagi diisi dengan bercanda bersama teman dan keluarga, menonton TV, atau berolah raga, tetapi diisi dengan melihat layar ponsel pintar. Teknologi ponsel pintar yang berkembang begitu pesat dan positif, sangat disayangkan tidak diikuti dengan perkembangan positif dari penggunanya.

Dalam kaitan kritikan Paus Fransiskus, saya mencoba untuk merefleksikan tentang bagaimana manusia memiliki ketergantungan akut terhadap ponsel pintar. Dahulu, ketergantungan manusia mungkin ada pada urusan pribadinya, yang disambungkan melalui ponselnya. Tetapi saat ini, beralih pada fasilitas luar biasa yang disediakan oleh sang ponsel pintar itu.

“Kemesraan” Manusia Pada Ponsel Pintar

Yang pertama, pernahkah Anda mendengar bunyi ponsel berbunyi nyaring saat perayaan Ekaristi Kudus sedang berlangsung? Sebagian besar, orang akan mengatakan lupa mematikan suara ponselnya, tetapi sebagian yang lainnya mengatakan ada urusan penting di luar sana yang mengharuskan dia mengangkat telepon saat itu juga.

Imbasnya terkait dengan pertanyaan yang kedua, berapa kali Anda melihat seseorang menelepon saat perayaan Ekaristi berlangsung? Jelas-jelas ini menandakan bahwa masih ada sesuatu yang lebih penting daripada Tuhan, ntah orangnya atau urusannya.

Mari kita lihat dan bandingkan fenomena hari ini, yang saya lihat sendiri dengan mata kepala saya dan terjadi bahkan di gereja saya sendiri. Pernahkah Anda melihat seseorang mengecek notifikasi pada ponsel pintarnya seusai menyambut komuni? Pernahkah Anda melihat seseorang mengecek new feeds di Sosial Media saat perayaan Ekaristi Kudus berlangsung? Pernahkah Anda melihat seseorang chating-an saat Imam memberikan homili?

Manusia dan Ponsel Pintarnya

Ya, sebagian besar dari Anda mungkin pernah melihat hal seperti itu atau bahkan mungkin Anda sendiri pernah melakukan itu. Kenapa begitu? Karena sama seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, bahwa saat ini manusia memiliki ketergantungan akut pada fasilitas luar biasa yang disediakan ponsel pintarnya, bukan lagi dengan urusannya. Manusia mungkin tidak dapat menghabiskan lebih dari 2 jam tanpa ponsel pintarnya, walaupun tidak ada hal penting yang perlu ia lihat pada ponsel pintarnya.

Jika dahulu, manusia mengangkat telepon saat Ekaristi Kudus berlangsung karena ia merasa urusan yang menantinya dibalik sambungan telepon itu penting, saat ini, manusia menggunakan ponsel pintarnya saat Ekaristi Kudus, bukan karena ada urusan penting yang menanti di layar ponsel pintarnya, tetapi hanya karena ketergantungannya pada ponsel pintarnya. Benarkah ini merupakan suatu kemunduran disaat teknologi ponsel justru mengalami kemajuan pesat?

Lepaskan Ikatan Anda dengan Ponsel Pintar!

Solusi apa yang bisa saya tawarkan terhadap masalah-masalah ini? Mari kita bahas berdasarkan apa yang saya alami dan sudah saya lakukan. Sekurang-kurangnya ada 4 poin penting berikut dengan solusi yang akan saya jabarkan pada tulisan saya kali ini.

1. Anda lupa mematikan suara ponsel saat Perayaan Ekaristi Kudus, karena Anda terlambat ke gereja. Anda tiba di gereja berapa menit sebelum Perayaan Ekaristi Kudus dimulai? Ketika Anda sampai hanya 5-10 menit sebelum Perayaan Ekaristi dimulai, persiapan Anda pasti hanya ala kadarnya, lain jika Anda sampai di gereja 20-30 menit sebelum Perayaan Ekaristi Kudus dimulai. Ini adalah salah satu hal yang membuat Anda lemah dalam persiapan, yang kemudian memunculkan masalah-masalah selama Perayaan Ekaristi Kudus berlangsung, bisa saja Anda menjadi tidak khusuk dalam merayakan Ekaristi, bisa juga Anda lupa bahwa suara ponsel Anda masih aktif. Perayaan Ekaristi Kudus tidak sama dengan pesta pernikahan atau pesta ulang tahun yang bisa Anda hadiri hanya 5 menit sebelum acara dimulai atau hanya Anda ikuti dari pertengahan saja. Perayaan Ekaristi Kudus hanya bisa Anda ikuti dengan baik, jika Anda memiliki cukup waktu untuk hening dan memeriksa batin Anda sebelumnya.

2. Anda merasa urusan duniawi Anda lebih penting dari hubungan pribadi Anda dengan Tuhan. Anda tidak menggunakan ponsel pintar Anda ketika Anda sedang menghabiskan waktu Anda bersama keluarga atau pacar. Tujuannya apa? Agar ponsel pintar dan segala macam urusan yang ada di dalamnya tidak mengganggu kebersamaan Anda dengan orang-orang terkasih, bukan? Tidak ada salahnya Anda melakukan hal yang sama ketika Anda sedang bersama-sama Tuhan. Kalau Anda bisa meninggalkan ponsel pintar Anda untuk kebersamaan intim bersama keluarga dan pacar Anda yang adalah manusia, kenapa Anda tidak bisa meninggalkan ponsel Anda demi kebersamaan Anda bersama pencipta Alam Semesta ini?

3. Bagaimana jika urusan duniawi Anda memiliki hubungan yang erat dengan keselamatan umat manusia? Sebagian orang pernah mengatakan bahwa alasan dia tidak mematikan suara ponselnya karena profesinya menyangkut keselamatan umat manusia, misalnya dokter atau petugas pemadam kebakaran, yang tugas duniawinya tidak ditentukan oleh waktu yang tetap. Cintailah Tuhan Allahmu dengan segenap pikiran, perbuatan, dan hatimu. Cintailah sesama manusia sama seperti engkau mencintai dirimu sendiri. Anda diminta Tuhan untuk mencintai Tuhan dahulu, baru mencintai manusia. Karenanya, Anda tidak perlu khawatir akan urusan dunia Anda saat Anda bersama Tuhan. Tuhan sudah punya jalan dan rencana yang sempurna. Jika karenanya, sesuatu yang buruk terjadi, itu pasti karena Tuhan menginginkan begitu. Rencana Tuhan itu sempurna. Sempurna itu belum tentu terlihat baik, bisa juga terlihat buruk. Jalan Tuhan ada jauh di atas jalan manusia. Intinya adalah pasrah pada kehendak Tuhan, belajar untuk menerima bahwa tidak semua hal bisa Anda kendalikan. Just do your best and let God do the rest.

4. Anda tidak menggunakan waktu teduh saat Perayaan Ekaristi Kudus untuk berdoa atau bernyanyi, malahan untuk menggunakan ponsel pintar Anda. Perayaan Ekaristi Kudus menyediakan bagi Anda waktu-waktu tertentu untuk hening, berdoa atau bernyanyi, seperti saat sebelum Perayaan Ekaristi dimulai (berdoa/hening), saat persiapan persembahan (bernyanyi/hening), dan saat selesai menerima komuni suci (bernyanyi/berdoa). Bagi sebagian orang, saat-saat seperti ini mungkin terasa membosankan, dan akhirnya digunakan untuk menggunakan ponsel pintar. Kemudian hal ini menjadikan Perayaan Ekaristi Anda kehilangan kekudusannya dan hati Anda kehilangan fokus untuk menyelesaikan Perayaan Ekaristi Kudus itu. Oleh karena itu, hendaknya Anda tinggalkan ponsel pintar Anda di mobil atau sekalian jangan dibawa. Dengan demikian, jelas-jelas Anda tidak akan menggunakan ponsel pintar Anda saat Perayaan Ekaristi berlangsung.

Dosakah Mengabadikan Momen Saat Misa?

Selain digunakan untuk berkomunikasi, yang tidak mungkin dilewatkan adalah kemampuan ponsel pintar untuk mengambil gambar dengan kualitas yang tidak kalah luar biasa dengan kualitas kamera. Tidak jarang kita juga ingin mengabadikan momen-momen saat Perayaan Ekaristi Kudus pada ponsel pintar Anda, terutama ketika perayaan-perayaan besar seperti Natal dan Paskah. Bagaimana saya menanggapi hal ini?

Mengabadikan momen tentu menjadi suatu hal yang penting bagi sebagian orang. Tidak terkecuali bagi saya yang sedang menekuni dunia fotografi. Berdasarkan logika saya, mengambil momen saat Perayaan Ekaristi Kudus sah-sah saja. Ketika kita mengunggah foto tersebut ke sosial media, bukankah itu bisa menjadi bagian dari mewartakan Allah ke tengah umat manusia?

Yang paling penting, kegiatan Anda tidak menganggu umat lain yang sedang merayakan Ekaristi Kudus. Anda juga tidak mengabadikan momen disetiap Perayaan Ekaristi Kudus, khusus saat perayaan khusus saja. Anda tidak mengabadikan momen pada momen yang sangat sakral, misalnya saat konsekrasi.

Kesimpulan

Anda memiliki 24 jam x 7 hari untuk menggunakan ponsel pintar Anda. Anda menggunakan ponsel pintar hampir disetiap waktu dalam hidup Anda. Setelah bangun tidur, sebelum tidur malam, saat senggang, disela-sela pekerjaan Anda, dan masih banyak lagi kesempatan lain yang bisa Anda gunakan untuk kebersamaan dengan ponsel pintar Anda.

Menyisihkan waktu hanya tidak lebih dari 2 jam setiap minggunya untuk fokus dalam kebersamaan dan komunikasi dengan Tuhan yang menyelenggarakan kehidupan Anda tentu bukanlah hal yang sangat sulit. Anda hanya perlu kesadaran diri dan keinginan yang baik untuk melakukan itu. Belajarlah untuk menjadikan Perayaan Ekaristi Kudus menjadi suatu kebutuhan bagi hidup rohani Anda, bukan sekedar suatu kewajiban Anda sebagai seorang Katolik.

Sumber Gambar:

https://www.catholicnewsagency.com/news/pope-mass-is-for-the-eucharist-not-pictures-put-the-phone-away-45111

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *