[JOGJA TRIP – DAY 2 PART 2 – 06.11.2016] Candi Borobudur: A New Insight & Perspective

Halaman Samping Candi Borobudur, Magelang, 06 November 2016, 16.00 WIB

Kenangan Sederhana Masa Kecil

Usai dari Wisata Kalibiru, kami berangkat menuju Candi Borobudur, namun sebelumnya kami singgah dulu ke salah satu tempat makan menuju Candi Borobudur. Nama tempat makan tersebut adalah Bale Kambang. Saya makan nasi bebek goreng, tempe dan tahu goreng, dan tumis kangkung. Tempe dan tahu gorengnya JUARA! Alami sekali, tanpa ada bumbu-bumbu, hanya garam saja. Sudah jarang pada zaman sekarang saya temui jenis makanan seperti ini.

Dari cita rasa, kesemuanya baik, hanya saja daging bebeknya keras/alot. Bagi saya tidak enak. Namun, teman saya yang makan ayam goreng, katanya enak, ayamnya digoreng cukup kering namun dagingnya tidak keras. Satu hal lagi uniknya Jogjakarta, semua es teh manis yang dijual masih menggunakan gula pasir (di Batam, kebanyakan sudah menggunakan gula cair).

Ketika saya ke Jogjakarta, seakan-akan kenangan-kenangan masa kecil saya kembali terulang. Sesuatu yang tidak pernah saya jumpai sekarang, saya jumpai di Jogjakarta.

Candi Mendut: Pelajaran SD Yang Menjadi Nyata Saat Ini

Untuk harga makan saya tidak tau, karena makan sudah termasuk dalam paket tour. Usai makan, kami melanjutkan perjalanan, mampir dulu ke Candi Mendut. Tidak banyak yang ada di sana, juga sepertinya tidak ada jasa sewa tour guide yang bisa menjelaskan bagaimana sejarah dari Candi Mendut sehingga di sini saya lebih banyak berkeliling dan berfoto-foto.

Tampak depan Candi Mendut, Magelang, 06 November 2016, 14.00 WIB
Patung di dalam Candi Mendut, Magelang, 06 November 2016, 14.00 WIB
Landscape di sekeliling Candi Mendut, Magelang, 06 November 2016, 14.00 WIB

Di dekat area kompleks Candi Mendut, ada 1 kompleks lagi yang bisa kita kunjungi untuk berburu gambar. Hanya sekitar 20 meter dari Candi Mendut dan sepertinya masih bagian dari sejarah Candi Mendut. Hanya saja saya tidak bisa pastikan, karena sekali lagi di sana sepertinya tidak menyediakan jasa tour guide sehingga saya tidak mengetahui tempat apa itu. Maka, saya tidak bisa bercerita banyak selain share foto-foto saja. 😄😄😄

Berpose di depan salah satu patung dalam Kompleks Candi Mendut, Magelang, 06 November 2016, 14.30 WIB
Tampak dalam sebuah Vihara di Candi Mendut, Magelang, 06 November 2016, 14.30 WIB
Sebuah patung Buddha di dalam Vihara di Candi Mendut, Magelang, 06 November 2016, 14.30 WIB
Salah satu patung dalam Kompleks Candi Mendut, Magelang, 06 November 2016, 14.30 WIB
Tampak serong samping salah satu patung dalam Kompleks Candi Mendut, Magelang, 06 November 2016, 14.30 WIB
Salah satu jalan dalam Kompleks Candi Mendut, Magelang, 06 November 2016, 14.30 WIB

Candi Pawon: Kesederhanaan Yang Menjadi Bagian Hari Raya Waisak

Selesai berburu gambar di Candi Mendut, kami lanjutkan ke Candi Pawon. Candi Pawon memiliki kompleks yang lebih kecil dari Candi Mendut. Dalam kompleks itu, hanya ada sebuah candi dan di dalam candi tersebut tidak ada apa-apa, kosong begitu saja. Sehingga saya hanya mengambil beberapa foto saja dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Candi Borobudur. Namun demikian, sebelum sampai di Candi Borobudur, prosesi Waisak setiap tahun akan sampai di candi ini terlebih dahulu.

Tampak depan Candi Pawon, Magelang, 06 November 2016, 15.00 WIB

Candi Borobudur: Kemegahan Dalam Kesucian

Sesampainya di Candi Borobudur, kami langsung masuk ke dalam kompleks Candi Borobudur. Candi Borobudur memiliki kompleks yang sangat luas dan paling ramai apabila dibandingkan dengan Candi Mendut dan Candi Pawon.

Keamanan yang diterapkan pada Candi Borobudur pun sangat ketat, tidak heran karena memang Candi Borobudur merupakan salah satu keajaiban dunia.

Untuk tiket masuk ke kompleks Candi Borobudur saya sendiri tidak tau, karena masuk dalam paket tour saya bersama Nagan Tour. Setelah masuk, maka akan ada yang menawarkan apakah ingin menggunakan jasa tour guide untuk menjelaskan sejarah lengkap mengenai Candi Borobudur seharga Rp 100.000. Saya dan teman saya memutuskan untuk menggunakan jasa tour guide. Pada akhirnya kami benar-benar mengetahui suatu wawasan baru yang mungkin belum kami miliki sebelum kami mengunjungi Candi Borobudur.

Sangat banyak yang diceritakan oleh sang tour guide. Saya tidak bisa mengingat secara rinci apa yang sudah disampaikannya. Tetapi yang penting-penting tetap saya ingat. Pertama, dijelaskan bahwa Candi Borobudur sebenarnya sudah dipugar/direnovasi beberapa kali. Penyebabnya adalah karena bencana alam, yaitu gempa bumi dan letusan Gunung Merapi. Hingga sekarang, Candi Borobudur sudah banyak kekurangannya, seperti bentuk stupa yang sudah tidak sempurna dan cacat di beberapa bagian.

Tempat sewa penunggangan gajah di Candi Borobudur, Magelang, 06 November 2016, 15.00 WIB

Selain itu, yang menurut saya unik, patung Buddha yang ada pada Candi Borobudur sudah banyak yang tidak ada kepalanya. Kepala patung Buddha banyak dicuri oleh pengunjung yang menganggapnya sebagai benda antik dan bisa dijual pada pasar gelap. Namun, pada akhirnya kepala patung Buddha yang dicuri banyak dikembalikan oleh mereka yang peduli terhadap estetika Candi Borobudur.

Lalu kita berjalan masuk ke arah Candi Borobudur berada, tentu saja sambil dijelaskan tentang sejarah Candi Borobudur sambil mengambil foto pada spot-spot yang bagus. Sebelum sampai di Candi Borobudur, ada tempat penyewaan penunggangan gajah seharga Rp 50.000 untuk 15/30 menit (saya tidak ingat).

Di dinding-dinding Candi Borobudur dipenuhi oleh ukiran-ukiran yang memberitahukan banyak cerita dan pelajaran kehidupan yang kemudian menjadi panutan bagi masyarakat kerajaan saat itu. Ukiran-ukiran tersebut juga digunakan untuk bersekolah pada masa itu.

Masyarakat dulu tidak bisa menulis, tetapi bisa mendengar sehingga pengajaran di sekolah disampaikan dalam bentuk gambar-gambar.

Salah satu contoh ukiran di Candi Borobudur, Magelang, 06 November 2016, 15.00 WIB

Candi Borobudur terdiri dari beberapa tingkatan, dimana setiap tingkatan merupakan tanda tingkat iman seseorang. Semakin tinggi tingkat iman seseorang, maka tempatnya juga semakin tinggi. Pada tingkat yang paling atas, kita akan merasakan angin sepoi-sepoi yang sangat menyejukkan. Hal ini juga berarti jika seseorang sudah ada tingkat iman yang paling atas, maka pantaslah ia juga mendapatkan kondisi yang baik pula.

Jika kita sudah sampai pada tingkatan paling atas, ada sebuah kebiasaan mengitari Candi Borobudur sebanyak 3x searah jarum jam. Namun, karena kondisi yang sangat ramai ketika itu, maka saya dan teman saya hanya mengitari 1 putaran saja.

Satu hal yang amat disayangkan bagi saya, orang-orang yang mengunjungi Candi Borobudur tidak perhatian dengan nilai estetika dan spiritual dari Candi Borobudur itu sendiri.

Beberapa tempat di Candi Borobudur tidak diperbolehkan untuk diduduki, ada palangnya, tapi tidak diindahkan. Kebiasaannya mengitari searah jarum jam, tetapi banyak yang tidak mengindahkan sehingga menghambat perjalanan orang yang lainnya.

Pengalaman Sederhana Yang Membuka Mata Hati Saya

Selesai tour di dalam Candi Borobudur, kami keluar dan saat perjalanan keluar itulah saya mendapat sebuah kejadian yang sebenarnya kurang menyenangkan, tetapi sekaligus pula membuka mata hati saya terhadap sesuatu yang belum saya sadari sebelumnya.

Prosesi Mengitari Candi Borobudur Searah Jarum Jam, 06 November 2016, 15.00 WIB

Begini ceritanya, seperti pada tempat-tempat wisata pada umumnya, akan ada banyak orang yang berjualan souvenir. Begitu pula di Candi Borobudur, ada banyak orang, baik anak muda, bapak-bapak dan ibu-ibu yang menjual souvenir berbau Jogjakarta dan Candi Borobudur. Sedikit berbeda di sini, ada sebagian yang berjualan bukan di dalam kios tetapi berkeliling menawarkan setiap pengunjung yang lewat.

Jujur, saya bukan tipe orang yang suka dengan gaya berjualan demikian sehingga saya hampir tidak pernah membeli barang dari orang yang berjualan berkeliling seperti ini. Biasanya, saya akan tersenyum sambil mengangkat tangan atau mengatakan tidak. Selain itu, saya juga bisa pura-pura tidak lihat dan jalan seakan tidak ada apa-apa.

Di sinilah sisi angkuh yang sungguh melekat dalam diri saya dan belum bisa lepas hingga saat ini.

Tetapi lain dengan teman saya, dia lebih peduli dan punya rasa iba terhadap orang-orang yang sedang berjuang keras demi dirinya dan mungkin demi keluarganya juga. Ya, teman saya akhirnya berhenti dan memilih-milih barang dan kemudian membelinya. Agar tampak adil, teman saya membeli dari 2 penjual yang berbeda, masing-masing 1 buah.

Setelah selesai bertransaksi, masih ada 1 orang penjual lagi yang masih mengikuti kami dengan menawarkan barang dagangan miliknya sambil berkata,”Bagi-bagi rezeki mas, mereka jual 150.000, saya 100.000 saja”. Meskipun saya dan teman saya sudah berusaha berjalan cepat dan mengacuhkan penjual tersebut, dia tetap gigih dan tidak menyerah. Bahkan hingga kami keluar dari pintu, dia juga tetap mengikuti kami. Tetapi setelah beberapa langkah dari pintu keluar, akhirnya dia kembali.

Hikmah yang bisa saya ambil dalam peristiwa sederhana itu adalah bahwa saya percaya mereka mampu melakukan hal semacam ini tanpa malu dan begitu gigih hanya karena 1 hal, ialah kebutuhan. Ya, mereka butuh uang untuk diri mereka sendiri dan keluarganya sehingga 1 buah saja yang terjual sudahlah amat berharga.

Semoga dengan kejadian ini saya mampu untuk mengubah hati saya yang keras terhadap orang-orang seperti mereka. Semoga mereka selalu diberkati dengan rahmat Tuhan, rahmat yang paling mereka butuhkan dalam kehidupan mereka. Amin.

Sumber Foto: Koleksi pribadi, diambil dengan Kamera Samsung WB350 milik teman saya dan Kamera Belakang Iphone 6+.

 

Itinerary & Biaya Perjalanan: Ringkasan Itinerary & Biaya Perjalanan Jogjakarta 7D7N (5-11 November 2016)

Baca Juga:

[JOGJA TRIP – DAY 2 PART 1 – 06.11.2016] Wisata Kalibiru: Magnificent View & Experience

[JOGJA TRIP – DAY 3 PART 1 – 07.11.2016] Nikmatnya Suasana Candi Prambanan

Tips & Saran Jalan-Jalan di Jogjakarta

Tempat-Tempat Wisata di Jogjakarta

TRAVEL as MUCH, as FAR, as LONG as YOU CAN. LIFE’s not MEANT to be LIVED in ONE PLACE.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *