[SG TRIP – DAY 1 PART 1 – 12.11.2016] Bersyukurlah dan Berikan dari Kekuranganmu

Pemandangan langit & kota Jogjakarta dari rooftop Hotel Pandanaran, 12 November 2016, 05.30 WIB

Goodbye Jogja, Thanks For The Memories!

Hari ke-8 saya di Jogjakarta yang juga merupakan hari terakhir saya menginjakkan kaki di kota kenangan ini, kota yang menghadirkan berjuta keindahan alam, kota yang sudah aku rindukan bahkan hanya beberapa hari setelah aku meninggalkan kota ini. Ya, banyak kenangan dan lebih banyak lagi kerinduan.

Suatu saat nanti ‘ku kan kembali berjumpa denganmu, berharap menemukan jutaan pesona lainnya yang lagi-lagi mampu menghadirkan kekaguman dalam diri dan hati.

Jam 05.00 WIB saya sudah bangun dari tidur lelap saya untuk bersiap-siap karena pesawat Air Asia yang akan membawa saya melanjutkan perjalanan saya ke Singapore akan berangkat jam 07.25 WIB. Jam 05.45 WIB, taksi yang sudah saya pesan sebelumnya menjemput saya, perjalanan dari hotel menuju Bandara Internasional Adisucipto ditempuh sekitar 30 menit. Sesampainya di bandara, saya melakukan check-in dan langsung menunggu di ruang tunggu. Syukurlah pesawat yang akan menerbangkan saya akan berangkat sesuai jadwal.

Perjalanan dari Jogjakarta menuju Singapore ditempuh dalam waktu 2 jam. Selama di pesawat, saya isi dengan tidur karena masih mengantuk. FYI, saya adalah tipe orang yang amat jarang bangun pagi hari. Jika saya bangun jam 06.00 WIB sekalipun, biasanya saya akan tidur lagi dulu sebentar dan akan bangun kembali sekitar jam 07.00 WIB. 😂😂😂

Kembali ke topik, sesampainya di Singapore, seperti biasa, kita harus melalui pengecekan petugas imigrasi. Ini adalah kali pertama saya masuk ke Singapore melalui bandara. Dari dulu sampai sekarang, ada semacam ketakutan tersendiri jika mau masuk ke Singapore, karena ada saja yang dipanggil untuk diperiksa jika saya ke sana.

Begitu juga dengan kali ini, rasa takut itu tetap ada, apalagi jika melihat wajah-wajah sangar petugas imigrasi di Singapore. 😂😂😂

Gereja Katolik St. Petrus dan Paulus, Singapore, 12 November 2016, 12.00 waktu SG

Kemegahan Gereja Katolik Singapore

Singkat cerita, setelah melalui petugas imigrasi dan mengambil bagasi, selanjutnya saya menuju ke stasiun MRT Changi Airport untuk selanjutnya menuju ke Hotel Fragrance Crystal yang beralamat di 50 Lorong 18 Geylang, Singapore, tempat saya menginap melalui stasiun MRT Aljunied. Sesampainya di stasiun MRT Aljunied, saya melanjutkan perjalanan saya dengan menggunakan bus yang berada dekat dengan stasiun MRT Aljunied. Setelah 3 perhentian, saya turun dan di sana sudah tampak jelas petujuk arah bertuliskan Lor 18 yang berarti Lorong 18, saya kemudian berjalanan kaki sekitar 150m dan sampailah saya di Hotel Fragrance Crystal, kemudian saya check-in dan menitipkan bagasi saya karena ketika itu masih jam 11.00 waktu SG, dimana saya masih belum boleh masuk ke kamar.

Setelah itu, saya kembali ke stasiun MRT Aljunied, kali ini saya berjalan kaki, karena bus menuju rute menuju stasiun MRT Aljunied dari hotel harus memutar, sehingga kurang efektif dan efisien bagi saya. Dengan berjalan kaki, perlu waktu sekitar 15 menit untuk sampai di stasiun MRT Aljunied. Selanjutnya saya menuju stasiun MRT Bras Basah untuk mengunjungi 2 Gereja Katolik yang berdekatan, ialah St. Peter & Paul Catholic Church dan St. Joseph Catholic Church.

Sebenarnya masih ada 1 lagi Gereja Katolik di dekat sini, yaitu Good Shepherd Cathedral, tetapi ketika saya datang, gereja tersebut masih dalam tahap renovasi sehingga tidak bisa dikunjungi.

Gereja Katolik St. Joseph, Singapore, 12.30 waktu SG

Gereja yang pertama saya kunjungi adalah St. Peter & Paul Catholic Church, namun pada saat itu sedang berlangsung Misa Arwah sehingga saya tidak masuk ke dalam. Saya hanya mengambil beberapa foto dari luar gereja. Kemudian saya melanjutkan perjalanan saya ke St. Joseph Catholic Church, sekitar 50m dari St. Peter & Paul Catholic Church. Sesampainya di sana saya masuk ke dalam gereja, berdoa sejenak, lalu mengambil beberapa foto dari dalam gereja.

Di dalam gereja, ketika saya mengambil beberapa foto, ada kotak persembahan yang memungkinkan saya untuk menyumbangkan sejumlah dana. Biasanya saya akan menyumbangkan dana, apalagi di gereja yang jarang saya kunjungi.

Tapi, hari itu, saya tidak menyumbangkan dana, karena 2 hal, yang pertama karena dana saya sudah menipis setelah traveling lebih dari seminggu. Yang kedua, saya tidak tau kenapa, dalam hati kecil saya, saya merasa tidak perlu untuk menyumbangkan dana tanpa suatu sebab yang bisa saya jelaskan.

Tampak Dalam Gereja Katolik St. Joseph, Singapore, 12.30 waktu SG

Bersyukurlah Atas Rahmat Tuhan Melalui Gereja-Nya

Usai mengambil beberapa foto, kemudian saya keluar untuk mengambil foto dari luar gereja. Di sinilah terjadi sesuatu yang tidak saya duga sebelumnya. Ketika saya sedang asik mengambil foto gedung gereja, seorang lelaki paruh baya, yang tadi saya lihat juga sedang berdoa di dalam gereja, memanggil saya. Awalnya saya cukup bingung, karena zaman sekarang, bisa saja orang seperti itu berniat jahat terhadap saya, mau menghipnotis saya misalnya. Tetapi saya tersadar bahwa saya sedang di Singapore dan semoga saja di Singapore tidaklah sama seperti di Indonesia, begitulah yang ada dalam benak saya ketika itu.

Kemudian bapak paruh baya itu mengatakan apa maksud dan tujuannya memanggil saya. Pada intinya, bapak paruh baya itu mengatakan bahwa beliau baru saya dioperasi kakinya sehingga menghabiskan banyak uang untuk itu. Beliau memohon agar saya bersedia memberikan uang saya sebesar S$ 10 untuknya. Sejujurnya saya bukanlah tipe orang yang begitu peduli terhadap orang seperti ini, seperti yang sudah saya jelaskan juga dalam tulisan saya ketika di Candi Borobudur, Jogjakarta.

Salah satu patung di dalam kompleks Gereja Katolik St. Petrus dan Paulus, Singapore, 12 November 2016, 12.30 waktu SG

Namun, kali ini saya merasa iba dan merasa perlu untuk memberikan uang saya ke bapak itu. Pada akhirnya saya memberikan uang S$ 4 untuknya. Seperti yang sudah saya katakan, bahwa uang saya sudah menipis ketika itu sehingga saya harus menggunakan uang saya sebijaksana mungkin.

Meskipun saya hanya memberikan S$ 4 untuk bapak paruh baya itu, namun bapak itu mengucapkan terima kasihnya dengan sangat tulus, saya bisa lihat dari caranya berterima kasih, dari ucapannya dan dari bahasa tubuhnya. Salut!

Hanya beberapa langkah setelah saya meninggalkan bapak paruh baya itu, benak saya langsung merasa bahwa kejadian itu bisa saja teguran dari Tuhan untuk saya karena saya tidak menyumbangkan uang untuk gereja yang jarang sekali saya kunjungi itu. Namun, dalam refleksi pribadi saya ketika saya teringat kejadian itu, saya menyadari, mungkin itu bukan saja teguran bagi saya, tetapi karena Tuhan sudah mempersiapkan sesuatu yang lebih besar. Bagi Tuhan, bapak itu lebih membutuhkannya daripada gereja. Mungkin.

Benarlah apa yang dikatakan Bunda Teresa dari Calcuta, bahwa kita harus memberi dari kekurangan kita, bukan dari kelebihan kita.

Sosis di Seven Eleven Tampines Mall, Singapore, 12 November 2016, 17.30 waktu SG

Singapore Dengan Segala Kelebihannya

Setelah itu, saya kembali ke stasiun MRT Bras Basah untuk melanjutkan perjalanan saya menuju rumah tante saya di daerah Tampines untuk memberikan sedikit oleh-oleh dari Jogjakarta sekalian beramah tamah layaknya kunjungan keluarga. Ketika saya tiba di rumah tante saya, waktu sudah menunjukkan jam 15.00 waktu SG. Saya mengobrol dengan tante saya dan juga saudara sepupu saya yang kebetulan ada di rumah. Tidak terasa 1 jam 45 menit sudah saya mengobrol, langsung saya sudahi saja karena saya mau mengejar waktu untuk merayakan Ekaristi di Gereja di Bedok pada jam 17.00 waktu SG.

Namun, walaupun sudah cepat-cepat, ketika saya sampai di stasiun MRT Bedok, waktu sudah menunjukkan jam 16.55 waktu SG, ditambah hujan deras yang mengguyur Singapore dan saya harus mencari lokasi gerejanya, meskipun dari map tidak jauh dari stasiun MRT Bedok, akhirnya saya mengurungkan niat saya untuk misa saat itu. Akhirnya saya kembali lagi ke stasiun MRT Bedok dan kembali ke hotel untuk beristirahat.

“Dorayaki” di ION Mall Orchard, Singapore, 12 November 2016, 18.00 waktu SG

Sebelum saya kembali ke hotel, saya sempat ke seven eleven di dekat Tampines Mall untuk membeli sosis, dulu saya pernah makan dan rasanya enak sehingga kali ini saya beli lagi. Kemudian, saya menyempatkan diri juga untuk mengunjungi ION Mall di Orchard melalui stasiun MRT Orchard. Rencananya saya mau membeli cheese cake yang menurut teman saya rasanya amat enak. Tetapi karena kaki saya sudah lumayan semaput karena berjalan dari pagi hingga sore, saya tidak sanggup lagi untuk berkeliling di mall yang besar itu.

Saya hanya berkeliling sebentar dan syukurnya saya menemukan Candy Empire di sana. Saya membeli beberapa coklat untuk oleh-oleh, lalu saat berjalan kembali menuju stasiun MRT Orchard, saya melihat ada yang berjualan semacam kue dorayaki, namun isinya bukan coklat, tetapi telur, ham dan keju, namun saya lupa namanya. Makanan ini menarik perhatian saya dan saya beli. Setelah itu, saya kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat.

Sumber Foto: Koleksi pribadi, diambil dengan Kamera Belakang Iphone 6+.

 

Itinerary & Biaya Perjalanan: Ringkasan & Itinerary Perjalanan Singapore 2D1N (12-13 November 2016)

Baca Juga:

[SG TRIP – DAY 1 PART 2 – 12.11.2016] Menikmati Indahnya Malam di Merlion Park

[JOGJA TRIP – DAY 7 PART 2 – 11.11.2016] Arsitektur Gereja Bukanlah Penentu Iman

Tips & Saran Jalan-Jalan di Singapore

Tempat-Tempat Wisata di Singapore

TRAVEL as MUCH, as FAR, as LONG as YOU CAN. LIFE’s not MEANT to be LIVED in ONE PLACE.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *